3/06/2015

Jumatan di Jepang

Hallo. Kali ini kami akan membahas tentang jumatan di Jepang.

Yang menjadi kekhawatiran kaum pria khususnya yang beragama muslim yang akan merantau ke Jepang adalah Sholat Jumat. Bagaimana tidak? Jepang bukan negara dengan penduduk muslim mayoritas. Bahkan akhir-akhir ini imej Islam di Jepang sedang memburuk menyusul serangakaian tindakan oleh kelompok Islam separatis yang tengah berkecamuk di Timur Tengah. Berita pemenggalan kedua wartawan Jepang menjadi tambah memperburuk imej Islam di Jepang.

Namun tidaklah perlu takut jika kita bukan bagian dari kelompok separatis yang ada di Timur Tengah. Jauh sebelum itu hubungan Jepang dengan negara-negara muslim cukup mesra, khususnya sebagai mitra bisnis.


Baiklah sekarang kita masuk ke topik Sholat Jumat di Jepang. Ada sebagian pasti yang bingung bagaimana mengatur jadwal sekolah dengan waktu sholat jumat di Jepang. Berbeda dengan di sini, waktu istirahat sekolah atau jam kantor di Jepang pada hari Jumat sama saja dengan hari biasa. Belum lagi kita harus cari masjid yang menyelenggarakan sholat jumat. Rata-rata yang menyelenggarakannya adalah masjid besar di kota-kota besar, seperti Tokyo misalnya. Sedangkan kita tinggal di daerah pinggiran kota, sangat susah sekali dan sangat memakan waktu lama. Bagaimana kalau kita terlambat masuk kelas?

Di sini akan kita uraikan bagaimana tips bergaul sekaligus menjadi pria muslim yang baik pada saat merantau ke Jepang.


1. Bergaul dengan sesama muslim dari berbagai negara.

Yang pasti jika berbicara study abroad gak jauh-jauh dari temen orang asing. Pastinya saat kita belajar ke Jepang, pasti bertemu orang dari seluruh penjuru bumi untuk belajar dan bertarung di Jepang, tentu saja dengan patokannya cita-cita masing-masing. Nah, tentunya dari berbagai macam suku bangsa yang merantau ke Jepang, pasti ada yang dari negara muslim. Sebut saja yang tidak usah jauh-jauh, tetangga paling mesra kita, Malaysia. Tidak usah gengsi karena masalah politik kedua negara, karena pada saat sedang menjadi anak rantau kita semua sama statusnya, yaitu pelajar/mahasiswa asing. Apalagi yang muslim, saudara semuslim. Selanjutnya dari negara muslim lainnya, yaitu Brunei, Turki, Mesir, Pakistan, Iran, dan banyak lagi muslim dunia yang sedang belajar di Jepang.

Mengapa kita harus bergaul dengan orang-orang ini? Pertama jelas, kita adalah makhluk sosial. Kedua sesama muslim memang harus memperat persaudaraan. Ketiga karena sama-sama punya nasib dengan masalah jadwal sholat jumat dan kegiatan keagamaan lainnya, seperti sholat taraweh, dan kegiatan lain di bulan Ramadhan.

Admin di sini akan coba sedikit berbagi pengalaman pada saat merantau di Jepang. Tentu saja mengenai sholat jumat.

Jadwal kuliah seperti biasa senin sampai jumat, dari jam 09.00 sampai jam 17.00. Kadang ada satu hari yang padat, kadang ada yang hanya 1-2 kuliah. Kebetulan jadwal hari Jumat hampir mepet dengan jadwal sholat jumat. Biasanya sholat jumat dilakukan dari jam 12.00 sampai jam 13.00. Sedangkan kuliah dimulai setelah istirahat makan siang selesai, yaitu, jam 13.05. Adzan berkumandang kira-kira pada jam 12.10 sedangakan selesai pada jam 13.00 lewat. Berhubung tidak ada masjid, mungkin sebagian muslim pria terpaksa harus meninggalkan kehormatannya setiap minggu, yaitu Sholat Jumat. Tetapi karena jaringan mahasiswa muslim yang kuat akhirnya maslaah dapat terselesaikan. Kebetulan admin punya teman salah satu komunitas orang Malaysia di kampus, dan jumlahnya cukup banyak. Mereka mengajak admin dan mahasiswa muslim lain dari Nigeria, Maroko, Mesir, dan China untuk mengadakan sendiri sholat jumat di kampus. Singkat cerita teman-teman muslim dari Malaysia mendapatkan izin dari otoritas kampus untuk menggunakan aula kecil yang akan digunakan sebagai tempat diselenggarakannya sholat jumat. Walau tidak berukuran besar tapi cukup menampung jamaah dari mahasiswa yang telah disebutkan di atas. Ruangan terletak di ruang serbaguna dimana mahasiswa menggunakannya untuk kegiatan kemahasiswaan atau UKM. Persis di samping ruang aula sholat jumat terdapat UKM musik, yang setiap hari genjrang-genjreng ngeband.

Tibalah saatnya datang hari Jumat. Meski dapat menjalankan sholat jumat bersama-sama dengan saudara semuslim dari penjuru dunia dan dapat menghemat waktu untuk tidak keluar kampus dan mencari mesjid, tetap saja kekhawatiran terlambat masuk kelas menjadi momok yang menakutkan, pasalnya Jepang merupakan negara yang disiplin soal waktu. Akhirnya admin segera mengahadap sensei untuk berbicara soal keterlambatan di jamnya pada hari Jumat. Admin berterus terang, bahwa sebagai seorang muslim pria wajib hukumnya menjalankan sholat jumat. Dengan senyum yang hangat sang dosen memberi toleransi waktu pada saat masuk ke kelasnya. Bahkan beliau juga memberitahukan kepada mahasiswa lain di kelasnya bahwa kuliahnya akan dimulai mundur sekitar 5 menit dari waktu normal. Sungguh sebuah sikap yang sangat bijak bagi seorang dosen mahasiswa asing yang berpengalaman menghargai toleransi umat beragama.

Setelah makan siang di kantin, mahasiswa Malaysia, Indonesia, Nigeria, Maroko, Mesir, dan China mempersiapkan perisapan sholat jumat, mulai dari sajadah dan tempat penitipan tas. Secara bergantian kami mengambil air wudhu, lalu masuk satu-persatu ke ruang aula. Yang bertindak sebagai Imam dan Pengkhutbah teman dari Malaysia. Sebelumnya kami telah berdiskusi dengan tetangga sebelah, UKM musik, untuk meminta izin supaya tidak melakukan aktivitasnya sejenak agar tidak menggagngu kekhusukan sholat. Teman kami dari Jepang itu pun setuju, dan menghargai kami untuk melakukan ibadah. Dan pada akhirnya kami pun bisa khusyuk melaksanakan sholat jumat di tempat kami sendiri yang walaupun kecil tetapi berharga. Dengan begini, persoalan tentang kehawatiran "dimana?", "bagaimana?" sholat jumat pun terselesaikan. Jadwal sholat jumat juga tidak mengganggu jadwal kuliah.

Oleh karenanya bergaul dengan siapa pun itu penting pada saat merantau ke negeri orang. Terutama dengan yang satu nasib. Kita mempunyai nasib yang sama, yaitu jadwal sholat jumat, oleh karenanya kami berteman. Tidak cukup sampai situ, komunitas muslim kami juga saling tukar informasi tentang kegiatan di bulan Ramadhan, sholat taraweh, volunteer untuk berbagi takjil, dan masih banyak lainnya. Pada saat bersua di jalan pun, kami tidak lupa berjabat tangan dan "Assalamualaikum".


2. Mencari masjid terdekat dari tempat tinggal

Kita sudah mendapatkan solusi tentang dimana dan bagaimana sholat jumat di kampus. Sekarang bagaimana ketika libur kuliah? Pada saat libur kuliah otomatis kita juga tidak bertemu dengan teman-teman muslim kita di kampus. Tetapi kita bisa menghubungi salah satu dari mereka untuk mendapatkan informasi tentang mesjid terdekat di daerah tempat tinggal kita. Memang di setiap kota kecil pinggiran tidak banyak mesjid, tetapi jika kita tidak mencari tidak akan ketemu.

Karena libur kuliah tentu kita punya banyak waktu dan tidak perlu khawatir akan jadwal kuliah bentrok dengan jumatan. Kita bisa berpetualang mencari masjid besar yang ada di pusat kota. Banyak mesjid-mesjid berdiri megah di negeri Jepang. Untuk list masjid bisa dilihat di sini.

Tokyo Camii, Mesjid terbesar di Jepang
Sumber Gambar: Wikipedia

Sholat di masjid Jepang

Ada yang unik jika kita sholat di masjid yang ada di Jepang. Di sini admin akan kembali berbagi tentang sholat di mesjid yang ada di Jepang. Setelah admin membangun komunitas sholat jumat di kampus dan bertukar informasi mengenai masjid di Jepang, admin mendapatkan informasi tentang keberadaan masjid yang dekat dari tempat tinggal admin. Informasi itu didapatkan dari salah satu teman China muslim yang sering mampir untuk sholat di masjid tersebut. Masjid tersebut terletak tidak jauh dari tempat tinggal admin, hanya dua stasiun dari stasiun terdekat. Di situlah admin melaksanakan sholat jumat setiap minggu pada saat libur kuliah.

Masjid ini berada persis di pinggir jalan. Tidak jauh dari situ juga terdapat gereja protestan dan katolik kalau tidak salah. Kelihatannya memang tempat berkumpulnya tempat ibadah agama langit. Masjid ini bernama Masjid Al Tawheed. Jika masuk ke dalam terdapat pusat kajian Islam atau Majelis Ta'lim dan kantor administrasi masjid tersebut. Tempat Sholat terletak di lantai dua. Tidak seluruh ruangan admin telusuri, tetapi yang pasti di tempat sholat yang berukuran tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil ini terdapat perpustakaan kecil yang berisi kitab suci Al-Quran dari berbagai bahasa di dunia. Bahasa Jepang, Inggris, Urdu, bahkan ada Bahasa Indonesia. Yang mengejutkan adalah koleksi terbanyak dari Al-Quran dan Tafsir tersebut adalah yang berbahasa Indonesia. Usut punya usut ternyata banyak orang Indonesia yang sering ke masjid tersebut. Bahkan ada salah satunya pengurus masjid tersebut. Selain perpustakaan, terdapat pula papan tulis, yang sepertinya digunakan untuk belajar tafsir Al-Quran. Imam masjid ini sendiri merupakan orang Pakistan. Oleh karenanya banyak juga terjemahan Al-Quran berbahasa Urdu.

Masjid Al Tawheed, Hiraoka-cho, Nishi Hachioji, Tokyo
Sumber Gambar: www.geocities.jp

Nah, sebelum berbicara tentang pelaksanaan sholat, ada yang unik saat mengunjungi masjid di Jepang. Pada saat hendak masuk masjid terlihat dua orang memakai setelan jas lengkap dengan dasi sedang berdiri. Admin tiba jam 11.00 di tkp. Karena harus berjalan kaki selama 20 menit dari stasiun, admin melepas dahaga sedkit dengan beli minuman di mesin penjual otomatis. Pada saat menenggak air mineral, sontak salah satu dari dua orang berdasi itu menyapa. Dia orang Jepang tulen, menyapa dan menanyakan asal dan kuliah dimana. Admin agak curiga mengapa dia menanyakan sedetail itu. Karena ini merupakan kesempatan yang bagus untuk melatih percakapan, admin dengan senang hati meladeninya. Setelah lama mengobrol, akhirnya tibalah adzan memanggil. Admin masuk dan berpamitan sejenak dengan si pria berdasi. Admin sempat berpikir apakah dia orang Jepang beragama Islam makanya dia ada di sekitar masjid. Si pria berdasi itu ternyata tidak ikut masuk. Dia bukan Muslim. Pria yang satunya juga terlihat bercakap dengan jamaah lain yang datang, sepertinya setiap yang datang diajak ngobrol.

Selesai sholat dua pria misterius itu masih berada di luar masjid, menunggu setia sambil berbincang-bincang. Pada saat jamaah hendak menunggu bis di depan masjid, dua pria itu kembali mengajak bicara jamaah yang selesai sholat. Admin pun diajak berbincang lagi dengan pria berdasi itu, kali ini ditambah dengan orang jamaah Pakistan yang nimbrung. Sebenarnya apa pekerjaan mereka?

Minggu kedua, ketiga, dan seterusnya hal ini terus berulang. Dua pria itu setia menunggu jamaah datang dan selesai sholat. Kadang pria satunya absen. Admin tidak berani mengatakan langsung apa pekerjaannya. Tetapi, usut punya usut, kedua pria itu adalah, bisa dibilang polisi. Ada apa polisi di depang masjid? Ternyata polisi ditempatkan untuk mengawal setiap kegiatan masjid yang ada di Jepang. Mungkin itu bisa dibilang kesimpulan admin sendiri. Tetapi tidak mungkin jika keberadaan polisi itu bukan tanpa sengaja. Admin teringat cerita dosen pada saat semeseter 1 di Indonesia, pada saat kuliah di Jepang pada tahun 2000-an beliau dicurigai oleh polisi pada saat hendak ingin berangkat sholat jumat. Sang dosen diinterogasi dengan nada tegas dan untung tidak berujung masalah. Berbeda dengan dua pria ini. Dua pria ini sangat ramah dan sopan. Mungkin saat itu (tahun 2012) tidak ada kejadian yang membuat orang Jepang sangat mencurigai Islam. Atau mungkin juga dua pria ini sudah kenal baik dengan seluruh jamaah yang notabene tidak terkait dengan gerakan separatis Islam.

Tetapi terlepas dari itu, semua keberadaan dua pria itu mempunyai tujuan baik untuk keamanan negara. Dan jika kita tidak berbuat hal yang melanggar hukum, kita tidak perlu merasa dicurigai dengan keberadaan mereka. Toh, mereka sama sekali tidak mengganggu pelaksanaan ibadah kita. Dua pria itu sangat baik, tahu banyak tentang Islam, dan mereka bilang jika suatu saat ke ada kesempatan ke Jepang lagi, jangan lupa sholat jumat di sini.


Masjid Al Tawheed tampak dari kejauhan
Foto oleh: Admin

Kita masuk pada pelaksanaa sholat jumat. Sholat jumat berjalan sama sebagaimana mestinya. Yang berbeda adalah pada bagian khutbah jumat. Kalau pada saat di kampus, khutbah memakai Bahasa Melayu karena mayoritas orang Malaysia, di sini memakai dua bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Urdu. Khutbah pertama disampaikan dengan Bahasa Inggris dan khutbah kedua dengan Bahasa Urdu yang disampaikan oleh orang berbeda. Bahasa Urdu dipilih karena mayoritas jamaah berasal dari Asia Selatan. Waktu pelaksanaan agak sedikit lama dari sholat jumat pada umumnya karena khutbah disampaikan dalam dua bahasa. Tetapi itu tidak menyurutkan jamaah yang datang di masjid itu. Sekitar 10 shaf lebih jamaah menunaikan ibadah sholat jumat.


Demikian pengalaman tentang jumatan di Jepang. Masih banyak lagi hal yang seru jika belajar dan berpetualang di sana. Kita dapat mengunjungi berbagai masjid di Jepang bertemu dengan sesama muslim, bertukar informasi, dan masih banyak hal yang menyenangkan lainnya.

Posted by:

    

3 comments:

  1. Sugoi desu, suatu hari ane juga bakal solat jumat di jepang min ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siiip, mimin siap bantu untuk pengurusan pendaftaran sekolah di Jepang. Don't worry :)

      Delete