Showing posts with label budaya jepang. Show all posts
Showing posts with label budaya jepang. Show all posts

5/07/2015

Koinobori dan Anak-Anak Jepang

Konnichiwa (^O^)/

Tidak terasa kita telah memasuki awal bulan Mei di tahun 2015. Waktu terasa berlalu dengan cepat ya. Hari ini kami akan membahas mengenai koinobori di Jepang. Yuk disimak!

Bulan Mei di Jepang identik dengan libur Golden Week (atau libur panjang selama 1 minggu) yang umumnya dimulai pada akhir bulan April hingga awal bulan Mei sekitar tanggal 6. Nah, di akhir libur panjang ini, terdapat perayaan hari anak-anak atau yang disebut dengan Kodomo no Hi yang jatuh pada tanggal 5 Mei tiap tahunnya. 


Perayaan ini diramaikan dengan bendera koinobori yang dipasang di depan rumah maupun di dekat sungai. Walaupun disebut sebagai hari anak-anak, namun perayaan ini sebenarnya dikhususkan kepada para anak laki-laki. Kalau kamu sedang berada di Jepang pada saat perayaan ini berlangsung, kamu akan melihat banyak sekali bendera bergambar ikan berkibar dengan berbagai warna dan ukuran.

Nah, bendera berbentuk ikan itu disebut Koinobori dalam Bahasa Jepang. Kata "koinobori" jika ditelaah lebih lanjut, berasal dari kata Koi yang artinya jenis ikan Koi dan nobori yang artinya naik.  Makna dari pengibaran tersebut adalah mendoakan anak laki-laki yang ada di dalam keluarga agar dapat sukses dalam hidupnya dan dapat bertahan walaupun banyak halangan yang menimpa. Pengibaran ini telah dilakukan sejak zaman pertengahan Edo di Jepang yang dimulai oleh kelas samurai.


Oh iya, pengibaran koinobori ini memiliki caranya sendiri, lho. Dalam 1 set bendera, kamu bisa melihat benda-benda berikut:

1. Bola naga (ryudama) yang dipasang di bagian atas tiang.
2. Roda berjari anak panah (yaguruma) yang dipasang setelah ryudama.
kedua benda di atas dipercaya memiliki kemampuan untuk mengusir roh jahat.
3. Bendera yang memiliki 5 warna berbeda (fukiganashi), yang melambangkan 5 unsur alam yang dipercaya dapat menangkal segala macam penyakit.
4. Koinobori berwarna hitam (magoi), yang melambangkan sosok ayah yang bertanggung jawab pada keluarganya.
5. Koinobori berwana merah (higoi), yang melambangkan sosok ibu yang memiliki jiwa penyemangat dan cinta dalam menjaga dan merawat keluarga.
6. Koinobori berwarna biru, yang melambangkan putra sulung.
7. Koinobori berwarna hijau, yang melambangkan putra kedua dan seterusnya.


 (perlu diketahui, ukuran koinobori semakin kecil ke bawah, seperti yang tampak pada gambar berikut.)

Walaupun koinobori dikhususkan untuk anak laki-laki, namun dewasa ini orang Jepang juga memasang koinobori untuk anak perempuannya dengan warna-warna cerah.


Kalau kamu ingin menikmati suasana perayaan ini, kamu bisa mengunjungi sungai Sagamihara yang letaknya sekitar 2 jam dari Tokyo. Memang jaraknya sedikit jauh, tapi wajib kamu datangi karena selain bisa melihat pemandangan banyaknya koinobori yang dikibarkan, kamu juga bisa memakan makanan jalan (street food) Jepang di area ini.

Semoga bermanfaat.
Cheers,

~Study Go Japan~ (Monica)

Image sources: Google Images

    

2/25/2015

Museum Part 1: Yūshūkan, Museum Pahlawan Jepang


Kuil Yasukuni tampak luar dengan pagar tembok. Terdapat tulisan "Kuil Yasukuni".
Foto oleh: CA (2012)

Yūshūkan


  Yūshūkan merupakan museum perang Jepang yang berlokasi di komplek Kuil Yasukuni. Museum ini menyimpan semua rekam jejak sejarah perang dan militer Jepang terutama berkisar pada awal zaman kontemporer Jepang sampai berakhirnya Perang Dunia II.


Yūshūkan
Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)


Kontroversi Kuil Yasukuni

  Kuil yasukuni disebut juga kuil paling kontroversial di Asia Timur. Pasalnya kuil pahlawan Jepang ini sensitif sekali dengan masalah sejarah untuk semua negara di Asia Timur. Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, pada tahun 2013, tepat setahun pengangkatannya menjadi perdana menteri, yaitu tanggal 26 Desember 2013 berziarah ke Kuil Yasukuni, yang merupakan tempat bersemayamnya arwah patriot-patriot Jepang. Setelah Perdana Menteri Koizumi, PM Abe adalah kali pertama yang berziarah semenjak era Koizumi. Berziarah ke kuil Yasukuni dianggap menyinggung masa lalu negara tetangga Jepang, yaitu Tiongkok, dan Korea Selatan. Setiap kali perdana menteri Jepang yang berziarah ke Kuil Yasukuni selalu disambut dengan demonstrasi warga Tiongkok. Warga Tiongkok menganggap Jepang tidak menghormati dan menghargai perasaan warga Tiongkok.

PM Abe Berziarah ke Kuil Yasukuni

Demonstarsi di Cina Menentang Ziarah Yasukuni

  Jika kita menengok ke belakang, Jepang merupakan monster bagi penduduk Tiongkok dan Semenanjung Korea. Invasi Jepang menyebabkan meletusnya Perang Dunia II di kawasan Asia Timur. Cerita-cerita yang menggambarkan mengenai kekejaman serdadu Jepang di Tiongkok, banyak tertuang dalam buku, novel, film dll. Di lain sisi, Jepang menganggap berakhirnya perang, berarti berakhir pula masa kelam Jepang bergelut dengan perang. Patriot-patriot Jepang yang gugur dipandang sebagai ksatria yang gugur karena membela negaranya. Warga Jepang yakin arwah-arwah mereka bersemayam dengan tenang di Kuil Yasukuni.

Sejarah Kuil Yasukuni

  Asal mula Kuil Yasukuni adalah berawal dari Kuil Tokyo Shokan yang didirikan pada tanggal 29 Juni 1896 (Meiji tahun ke-2), yang pada waktu itu Jepang lahir sebagai negara modern yang bersatu setelah terjadi revolusi besar dalam sejarah, yaitu, Restorasi Meiji. Sebelumnya Jepang merupakan negara tertutup dibawah pemerintahan Keshogunan Tokugawa, yang berlangsung selama hampir kurang lebih 250 tahun lamanya. Aktifitas perdagangan dan hubungan dengan negera luar dibatasi oleh keshogunan. Tetapi setelah itu Amerika Serikat datang menuntut Jepang membuka diri dan membangun tatanan negara asia yang maju. Kelompok pro dan penentang permintaan Amerika Serikat ini tumbuh beriringan dan mengakibatkan terjadinya konflik besar di dalam negeri Jepang. Keshogunan Tokugawa yang kehilangan kekuatan dalam menghadapi situasi seperti ini terpaksa menyerahkan kekuasaannya ke tangan kaisar, dan Jepang lahir sebagai negara baru yang modern dengan kaisar sebagai pusat pemerintahan.

Tokyo Shokonsha pada tahun 1873
Sumber Gambar: Wikipedia

  Ujian Jepang untuk menjadi negara maju dan modern tidak cukup sampai situ. Belum lama setelah Restorasi Meiji, Perang Boshin pun meletus, dan mengakibatkan Jepang kehilangan banyak prajurit dalam perang saudara ini. Dari sinilah Kaisar Meiji lalu membangun Kuil Shokan untuk menghormati arwah prajurit yang gugur dalam perang. Kaisar Meiji ingin arwah dan nama-nama prajurit yang gugur dalam perang bisa terus diingat oleh generasi berikutnya sebagai pahlawan yang dengan gigih bertarung untuk satu tujuan, yaitu negara maju dan modern. Kuil Shokan inilah yang sekarang bernama Kuil Yasukuni, yang diubah namanya pada tanggal 4 Juni 1879 (Meiji tahun ke-12).

Kunjungan Adolf Hitler (Oktober 1938)
Sumber Gambar: Wikipedia

Tujuan Kuil Yasukuni

  Di dalam Kuil Yasukuni bersemayam arwah-arwah prajurit yang gugur dalam berbagai perang saudara, diantaranya, Perang Boshin, Pemberontakan Saga, Perang Sainan, yang merupakan gejolak yang dialami Jepang dalam mewujudkan negara maju dan modern. Selain itu, tokoh-tokoh restorasi seperti Sakamoto Ryoma, Toshida Shoin, Takasugi Shinsaku, Hashimoto Sanai, lalu prajurit-prajurit yang gugur dalam beberapa peperangan besar seperti, Perang Jepang-Tiongkok, Perang Jepang Rusia, Perang Dunia I, Insiden Manchuria, Perang Asia Pasifik (Perang Dunia II), dan sebagainya, semua bersemayam di kuil ini. Terhitung 2.646.000 arwah bersemayam di kuil ini.

Kunjungan Pasukan Angkatan Laut Nazi Jerman (Maret 1937)
Sumber Gambar: Wikipedia

  Kuil Yasukuni juga tidak hanya tempat bersemayamnya para prajurit di medan perang, petugas medis dalam perang, personil sipil, dan semua yang turut terjun membantu peperangan di garis belakang juga disemayamkan di sini. Bahkan orang Jepang yang gugur dalam peperangan yang berasal dari Taiwan dan Semenanjung Korea, serta para tawanan Perang Dunia II yang tewas pada saat hendak dikirim ke Siberia, dan seluruh tawanan perang pada Perang Asia Pasifik juga bersemayam di sini.

  Semua orang yang disemayamkan di Kuil Yasukuni tidak dibedakan berdasarkan status, pangkat, prestasi, serta jenis kelamin, semua melebur dalam satu persemayaman sebagai arwah yang dihormati oleh tanah air dan bangsa. Itu merupakan tujuan dari Kuil Yasukuni itu sendiri. Orang-orang yang gugur untuk negaranya sendiri, 2.646.000 arwah yang bersemayam di Kuil Yasukuni adalah orang-orang yang diyakini dan dihormati semua orang Jepang sebagai arwah pahlawan yang melindungi tanah air dan bangsa Jepang.

Kuil Yasukuni Pada Malam Tahun Baru
Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)

Kuil Yasukuni dan Orang Jepang

  Dari dulu orang Jepang percaya bahwa orang yang sudah tiada akan terus bersemayam dan tinggal di tanah air Jepang dan terus melindungi seluruh keturuan dan cucu mereka. Oleh karena itu orang Jepang masih percaya arwah yang sudah tiada menjelma sebagai dewa bagi mereka. Sampai sekarang budaya itu terus diwariskan hingga cucu-cicit. Mereka percaya orang yang meninggal di setiap keluarga akan menjadi dewa pelindung keluarga tersebut, dan oleh karena itu orang Jepang mempercayai keberadaan arwah dewa terebut yang membuat negara Jepang ada hingga sekarang. Dengan itu keberadaan makam di Jepang sangat dipelihara dan dihormati orang Jepang, khususnya makam tempat bersemayam para patriot Jepang, seperti Kuil Yasukuni dan lainnya merupakan bagian dari budaya yang tak terpisahkan dari warisan luhur orang Jepang.

Kuil Yasukuni Pada Musim Semi

Kuil Yasukuni Pada Musim Panas

Kuil Yasukuni Pada Musim Gugur

Kuil Yasukuni Pada Musim Dingin
Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)

Asal Nama Yūshūkan

  Meminjam pepatah Tiongkok klasik dari seorang filsuf dan konfusian Xunzi, yang berbunyi, 「君子居必郷擇 遊必士就」 dengan arti kira-kira seperti ini, seseorang akan memilih kotanya karena lingkungan sekitarnya baik, dan jika kota tersebut berubah menjadi buruk ia akan bergaul dengan orang yang baik untuk menciptakan lingkungan yang baik. Kata yang berarti "bermain" dalam hal ini mengandung banyak makna, terutama merujuk pada kata "bergaul", "berpetualang", sedangankan kata merujuk pada kata "belajar". Pepatah di atas dapat ditafsirkan secara bebas sesuai dengan apa yang ingin dijadikan tujuan dari makna pepatah tersebut. Agar dapat dipahami secara terang untuk sebuah tujuan dari makna museum, maka lebih sederhana bila kita artikan seperti ini, "berpetualang di suatu kota untuk mendapatkan ilmu pengetahuan". Dengan begini kata dalam Bahasa Jepang dibaca Yū, dan dibaca S, serta dibaca Kan yang artinya "gedung". Lalu tujuan museum ini sendiri adalah untuk belajar dari jasa-jasa pahlawan dengan mengunjungi tempat persemayamannya, maka museum ini diberi nama Yūshūkan.

Kanji Yūshūkan
Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)


Sejarah Yūshūkan

  Pembangunan Yūshūkan pertama tercetus pada sekitar berakhirnya Perang Sainan, tahun 1877 (Meiji tahun ke-10). Lalu pada tahun 1879 (Meiji tahun ke-12) Jendral Angkatan Darat Tentara Kekaisaran Imperial Jepang, Perdana Menteri Jepang ke-3, Yamagata Aritomo, memprakarsai rencana berdirinya musuem untuk menyimpan semua senjata perang sepanjang sejarah Jepang dan untuk menghormati arwah pahlawan Jepang, dengan arsitektur bergaya Italia. Tahun 1881 (Meiji tahun ke-14) pembangunan dengan gaya arsitek Italia dimulai, tanggal 25 Februari 1882 (Meiji tahun ke-15) diadakan upacara peresmian pembukaan museum. Sedangkan nama museum diresmikan oleh Menteri Rumah Tangga Kekaisaran, Tanaka  Mitsuaki.

Yūshūkan Zaman Meiji
Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)

  Yūshūkan terus menjadi museum kebanggaan Jepang sampai melewati masa Perang Jepang-Tiongkok, Perang Jepang-Rusia, Perang Dunia I, bahkan dilakukan peremajaan dan penambahan gedung baru. Namun pada tahun 1923 (Taisho tahun ke-12) terjadi Gempa Besar Kanto yang menyebabkan rusaknya bangunan, hingga harus kembali diperbaiki.

  Tahun 1924 (Taisho tahun ke-13), untuk sementara dibangun gedung dengan skala kecil hingga pada Februari 1928 (Showa tahun ke-3), Kaisar Showa memerintahkan untuk membentuk panitia percepatan renovasi museum. Wujud museum dibangun kembali dengan arsitektur bergaya oriental modern berkat bantuan arsitek ternama Jepang di Universitas Tokyo, Ito Chuta. Pada tahun 1930 (Showa tahun ke-5) konstruksi bangunan dipercepat, hingga pada tahun berikutnya bangunan rampung, dan pada tanggal 26 April 1932 diadakan peresmian pembukaan museum yang menandakan museum dibuka secara resmi.

  Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, bulan Mei 1945 (Showa tahun ke-20), ruangan sekitar hal utama mengalami rusak dan beberapa bangunan hancur akibat peristiwa pengeboman lewat udara oleh tentara Angkatan Udara Amerika Serikat. Perpustakaan dan barang-barang penting setelah Zaman Tokugawa banyak yang hilang. Lalu setelah Jepang kalah perang, museum dilarang beroperasi oleh pasukan pendudukan Amerika Serikat dan dialih-fungsikan sebagai kantor pusat salah satu perusahaan asuransi sampai tahun 1980 (Showa tahun ke-55).

  Memasuki tahun 1980 (Showa tahun ke-55) persiapan pembukaan museum dimulai. Pada bulan Desember 1985 (Showa tahun ke-60), renovasi museum selesai, pada bulan Juli tahun berikutnya persiapan seluruh isi museum mulai kembali ditata, hingga akhirnya museum kembali dibuka setelah 44 tahun lamanya. Hingga beranjak usia sekitar 130 tahun, sekitar tahun 2002, museum mengalami pembaharuan untuk semua fasilitas dan tampilan, menjadi menarik dan modern.

Isi Museum

  Pengunjung dapat membeli karcis seharga 800 yen untuk sekali masuk. Loket pembelian terletak tidak jauh dari pintu masuk. Setelah membeli tiket pengunjung langsung dapat menikmati petualangan sejarah yang dimulai dari lantai dua.

  Di lantai dua ini pengunjung akan disuguhkan eksibisi pembabakan zaman Jepang. Mulai dari zaman keshogunan sampai zaman kotemporer. Pada zaman keshogunan atau era samurai dipajang banyak sekali pakaian zirah kasta samurai. Terdapat juga pedang katana, dan banyak lagi koleksi lainnya. Pada eksibisi pertama ini pengunjung akan disajikan untuk menjelajahi zaman Jepang dari zaman kuno sampai zaman keshogunan terakhir, Edo.

Koleksi Pakaian Zirah

Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)


  Lalu lanjut ke zaman selanjutnya yaitu, zaman akhir Edo, atau disebut juga Bakumatsu. Di eksibisi ini pengunjung disajikan secara kronologis semua kejadian dan peristiwa penting yang menandakan zaman ini, seperti kedatangan Kapal Hitam Amerika Serikat di Edo, Perang Boshin, dsb. Pengunjung dapat melihat ilustrasi alur peristiwa-peristiwa penting tersebut lewat sebuah gambar dan tulisan.

  Terus menjelajahi eksibisi, maka pengunjung akan terus menjelajahi zaman Jepang sampai pada akhir Perang Dunia II. Dari Restorasi Meiji, Perang Jepang-Tiongkok, Perang Jepang Rusia, Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan sebagainya.



Beberapa Eksibisi dan Galeri Pembabakan Zaman
Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)

  Setelah selesai berpetualang di lantai dua, rute selanjutnya adalah lantai satu. Di sini dikupas habis semua tentang Perang Asia Pasifik, atau yang kita kenal dengan Perang Dunia II. Yūshūkan memberikan perhatian pada fase ini karena memberikan pengaruh yang sangat besar sejarah bangsa Jepang. Di lantai satu ini disajikan beberapa eksibisi yang menampilkan kronologi kejadian pada Perang Asia Pasifik serta peristiwa terkait dunia yang terjadi bersamaan dengan Perang Asia Pasifik.



Eksibisi dan Galeri Perang Asia Pasifik
Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)

  Tiba di fase terakhir, pengunjugn akan melihat nama-nama prajurit yang wafat selama perang. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, tujuan museum ini adalah untuk menghormati arwah pahlawan dan memberitahukan nama-nama yang sudah berjuang demi bangsa dan negara kepada generasi berikutnya. Pada rute terakhir ini pengunjung akan melihat klimaks dari museum ini, bahwa betapa kejamnya perang fisik, agar di masa selanjutnya tragedi kemanusiaan yang terbesar sepanjang sejarah ini tidak terulang kembali.




Foto dan Nama Arwah
Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)

  Setelah puas berpetualang melihat isi museum pengunjung juga dapat membeli pernak-pernik atau buku bacaan sejarah di museum ini. Museum juga menyediakan kantin untuk melepas lelah setelah berpetualang sambil menyantap hidangan kantin. Selain itu, disediakan pula toko untuk membeli oleh-oleh seperti gantungan kunci, pernak-pernik, sampai miniatur kapal perang dan bendera Jepang.


Toko Buku dan Kantin
Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)

  Ada yang terlupakan dari keistimewaan museum ini. Yaitu ruang tempat penyimpanan artileri berat dan pemutaran film. sebelum memasuki rute dari petualangan museum, pengunjung dapat menyaksikan film yang memutar bagaimana bangsa Jepang melewati sejarah kelam peperangan, serta banyak pesan yang ingin disampaikan pada film tersebut. Walau kenyataanya sebagai negara yang kalah perang, Jepang dinyatakan sebagai penjahat perang, tapi pemerintah Jepang harus menjaga dan menghormati seluruh korban yang tewas untuk selalu menyampaikan bahwa perang itu sangatlah buruk, dan walaupun Jepang buruk di mata dunia, tetapi mereka yang telah tiada bagi orang Jepang merupakan pejuang yang gigih dalam membela negaranya. Dan melalui pemutaran film ini tujuan itu disampaikan. Pemutaran film biasanya diulang setiap satu jam sekali.



Sumber Gambar: Website Resmi Kuil Yasukuni
(http://www.yasukuni.or.jp)

Akses Menuju Museum

  Jika menggunakan kereta, dapat ditempuh dengan naik kereta JR, Chuo Line atau Sobu Line turun si Stasiun Ichigaya, dari situ dapat ditempuh dengan jalan kaki 10 menit.

Berpetualang Sambil Belajar

  Museum ini sangat tepat bagi kamu yang penikmat sejarah. Terlepas dari kontroversi tentang museum ini, pelajaran bagaimana menghargai sejarah dan bagaimana mengambil pelajaran dari sejarah merupakan hal yang sangat penting. Untuk itu bagi kamu yang berencana ke Jepang dan melanjutkan studi ke Jepang, sangat direkomendasikan untuk berpetualang di museum ini.

Sebuah Ideologi berbicara tentang kejayaan dan kedamaian, tapi Sejarahnya berbicara tentang kekejaman.

Selamat berpetualang!

-Study Go Japan-

Posted by

    

2/20/2015

Maiko dan Geiko

Maiko dan Geiko  

  Kita mengenal Geisha tentu dengan berbagai definisi yang lahir  dari setiap sudut pandang orang yang berbeda. Secara harfiah Geisha adalah Seniman, Gei (芸) adalah Seni, dan Sha (者) adalah Orang. Pada pertengahan Zaman Edo Geisha merupakan salah satu profesi yang sangat terkenal. Profesi dari Geisha adalah menghibur. Seorang Geisha merupakan orang yang dapat menguasai seni tari dan memainkan berbagai macam alat musik. Pada Zaman Edo di kota-kota seperti Kyoto dan Osaka, Geisha dibagi menjadi dua, laki-laki dan perempuan. Umumnya Geisha pria menghibur dengan memainkan alat musik seperti Taiko (gendang) dan lain-lain. Sedangkan Geisha wanita menari dan juga memainkan alat musik. Geisha wanita juga kadang disangkut-pautkan dengan wanita penghibur lain untuk para lelaki mabuk. Pada Zaman Meiji, istilah Geisha hanya dipakai untuk wanita saja, dan sampai sekarang Geisha identik dengan wanita.

Panggilan untuk Geisha dibagi menjadi dua, yaitu Maiko dan Geiko

  Maiko (舞妓) dan Geiko (芸妓) merupakan professional yang melayani tamu pada acara perjamuan. Sedangkan kota tempat dimana Maiko dan Geiko berada disebut dengan Kagai/Hanamachi (花街). Di Jepang daerah yang terkenal dengan Kagai adalah Kyoto. Terdapat 5 Kagai di Kyoto, salah satu yang paling terkenal adalah Gion (祇園).

Maiko (sebelah kiri)
Sumber Gambar: Wikipedia

  Biasanya karakteristik dari Maiko dan Geiko adalah make-up wajah dengan warna putih dan memakai Kimono dengan corak yang mencolok.

Sumber Gambar: Wikipedia

  Hubungan antara Maiko dan Geiko adalah, Geiko merupakan posisi di atas dari Maiko. Jika seorang Maiko sudah dapat berdiri sendiri tanpa bimbingan dari Geiko, maka bisa dikatakan seorang Maiko sudah dapat dikatakan sebagai seorang Geiko. Yang artinya Maiko adalah fase pelatihan untuk bisa menjadi seorang Geiko. Seorang Maiko juga biasanya lebih muda dari seorang Geiko, dan lebih lembut pembawaan karakternya.

  Sekarang seorang Maiko biasanya berumur belasan sampai 20 tahun. Bahkan pada zaman dahulu seorang Maiko lebih terlihat kanak-kanak dan biasanya lebih menampilkan karakter kekanak-kanakannya. Biasanya seorang Maiko mengenakan Furisode (振袖) yang bercorak terang yang memiliki Kataage (肩上げ) dan Sodeage (袖上げ). Lalu bunga yang berada di atas kepala lebih terlihat cantik. Obi yang dipakai juga terlihat longgar, dan memaki Okobo (bakiak tinggi ala Jepang).

Maiko (kiri) dengan karakter "kekanak-kanakan"
dan Geiko (kanan) dengan karakter dewasa.

Okobo
Sumber Gambar: Wikipedia

  Seperti yang dikatakan di atas, seorang Geiko merupakan senior dari Maiko. Oleh karena itu, Maiko harus menempa karirnya selama beberapa tahun untuk dapat menjadi seorang Geiko. Maiko adalah seorang “anak-anak” dan Geiko adalah seorang “dewasa”. Pada saat menjadi Geiko, seorang Meiko harus meninggalkan karakter kekanak-kanakannya, dan tampil dengan karakter dewasa layaknya seorang Geiko.

  Seorang Geiko biasanya menampilkan karakter dewasanya dari penampilan Kimono yang dipakai. Panjang Sode yang dipakai biasanya merupakan ukuran panjang pada umumnya, karakter dari Kimono yang dipakai lebih kalem daripada yang dikenakan oleh seorang Maiko, simpul Obi yang dikenakan adalah simpul Otaiko, dan sendal yang dipakai biasanya adalah Zōri (草履) atau Geta (下駄).

Zōri
Sumber Gambar: Wikipedia


Geta
Sumber Gambar: Wikipedia

  Biasanya dalam setiap penampilan perjamuan seorang Maiko merupakan pendamping dari Geiko. Seorang Geiko bisanya lebih mendominasi dan memimpin jalannya pertunjukan. Biasanya yang disajikan dari Maiko dan Geiko adalah seni tari dan pertunjukan seni lainnya.

  Seorang Maiko dan Geiko bukanlah hanya seorang Geisha atau seniman belaka. Maiko dan Geiko harus melewati hari-hari untuk menjadi seorang Geisha. Oleh karena itu dengan panjangnya perjuangan menjadi seorang Geisha, di situlah letak keindahan seni dari Geisha. Dengan hanya memakai Kimono saja keindahan tersebut tidak akan lahir tanpa adanya perjuangan untuk menjadi seorang seniman penghibur.

- Study Go Japan -

Posted by